Jumat, 13 Mei 2011

Mempertegas Tujuan Pendidikan Islam di Era Pragmatisme

Hidayatul Mabrur
Sepekan yang lalu, sepulang saya dari mengantar saudara saya ke setasiun tugu yang waktu itu hendak pulang ke Jakarta setelah beberapa hari menimati liburan dikota ini. Diperjalanan pulang, saya mampir ke salah satu warung soto betawi di jalan wahid hasyim, Depok, Condong-Catur, Sleman, Yogakarta. Sederhana memang warung ini, tapi entah mengapa pengunjungnya rata-rata orang-orang bermobil, dan hampir setiap pagi sederetan mobil berjejer disepanjang jalan sekitar warung, tak jarang akibat dari itu, radiasi 50-100 meter dari warung soto inipun macet, hingga sempat menggagu pengguna jalan. Inilah yang mendorong saya merasa benar-benar penasaran untuk mampir dan sesekali mencicipi rasa soto betawi diwarung soto yang digemari orang-orang bermobil ini.



Setelah memesan satu porsi soto, saya duduk di pojokan warung, lantaran bingung mencari tempat yang hedak saya duduki, karena hampir semua bangku yang tersedia tampak penuh, hanya ada satu kursi kosong pada satu meja yang itupun sudah ditempati seorang bapak-bapak dan anak lelakinya yang sedang asyik menyantap seporsi soto sambil berbincang-bincang ringan dalam kehangatan. Dengan penuh pekewuh dan agak segan saya minta izin agar bisa menumpang duduk di kursi yang satu-satunya kosong itu. Alhamdulillah, merekapun dengan ramah mempersilahkan saya duduk, setelah beberapa menit si bapak menanyakan segalanya tentang saya, asal, dari mana, mau ke mana, hingga kuliah dimana dan seterusnya. Dengan senang hati saya menjawab itu semua.

Jika boleh saya menafsirkan bapak ini kurang lebih berumur 40 tahun, dan ternyata Ia berasal dari Jakarta. Datang ke Jogja hendak mendaftarkan anaknya ke salah satu perguruan tinggi papan atas Nasional yang berada di Yogyakarta ini, sebut saja UGM. sampailah pembicaraan kami pada rencana perkuliahan anaknya yang nasibnya juga belum tahu lulus dari SMAnya itu. Setelah ngobrol panjang, saya tanyakan mengapa harus jauh-jauh memilih ke UGM pak? bukankah di Jakarta juga banyak universitas serupa yang baik dan berkualitas baik di skala Nasional. Si bapak ini dengan lancer menjeskan, UGM bagus dek, rata-rata alumnusnya langsung diterima diberbagai perusahaan Nasional maupun Internasional, brand namanya pun terkenal dimana-mana, saya takut jika saya memasukkan anak saya disembarang PT, takutnya anak saya anak saya tidak bisa bekerja setelah lulusnya nanti. sebenarnya sudah mendaftar ke UI namun tidak lulus UMnya, makanya kami kejar ke UGM Jogja.

Beranjak dari sedikit cerita di atas, ada sedikit kegelisahan tercambuk dihati kita semua, paling tidak realita nyata diatas menggambarkan bahwa saat ini tujuan dari pendididikan telah melampau jauh dari pada tujuan pendidikan yang sebenarnya. Di zaman yang serba praktis ini, orang berlomba-lomba masuk ke perguruan tinggi favorit hanya untuk menyabet ijazahnya sebagai bekal untuk melamar kerja pasca mendapatkan gelar sarjana. Tanpa memikirkan apa sebenarnya esensi dari pendidikan itu sendiri, Maka sekali lagi kita bertanya, seperti inikah memang wajah tujuan dari pendidikan?

Jika kita bercermin, meninjau kemudian mengkaji kembali akan tujuan pendidikan yang sebenarnya, khususnya dalam pendidikan pendidikan Islam, hal diatas sangatlah bertentangan dengan tujuan dari pendidikan yang sebenarnya.! Berikut beberapa pandangan pakar tentang Tujuan pendidikan Agama Islam :
1. Imam Ghazali, menggambarkan tujuan pendidikan harus sesuai dengan pandangan hidupnya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, yaitu sesuai dengan filsafatnya, yakni memberi petunjuk akhlak dan pembersihan jiwa dengan maksud di balik itu membentuk individu-individu yang tertandai dengan sifat-sifat utama dan takwa. Dengan ini pula keutamaan itu akan merata dalam masyarakat.[1]

2. Munzir Hitami, berpendapat bahwa tujuan pendidikan tidak terlepas dari tujuan hidup manusia, biarpun dipengaruhi oleh berbagai budaya, pandangan hidup, atau keinginan-keinginan lainnya. Bila dilihat dari ayat-ayat al Qur’an ataupun hadits yang mengisyaratkan tujuan hidup manusia yang sekaligus menjadi tujuan pendidikan, terdapat beberapa macam tujuan, termasuk tujuan yang bersifat teleologik itu sebagai berbau mistik dan takhayul dapat dipahami karena mereka menganut konsep konsep ontologi positivistik yang mendasar kebenaran hanya kepada empiris sensual, yakni sesuatu yang teramati dan terukur.[2]

3. Qodri Azizy, menyebutkan batasan tentang definisi pendidikan agama Islam dalam dua hal, yaitu; a) mendidik peserta didik untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak Islam; b) mendidik peserta didik untuk mempelajari materi ajaran Islam. Sehingga pengertian pendidikan agama Islam merupakan usaha secara sadar dalam memberikan bimbingan kepada anak didik untuk berperilaku sesuai dengan ajaran Islam dan memberikan pelajaran dengan materi-materi tentang pengetahuan Islam.[3]

4. Muhammad Abduh, lebih dalam lagi mengupas tentang hal ini. Dalam pembaharuannya dalam bidang pendidikan mengatakan bahwa pendidikan itu bertujuanuntuk mewujudkan kebangkitan masyarakat. Baginya pendidikan itu penting sekali, sedangkan ilmu pengetahuan itu wajib dipelajari. Yang juga jadi perhatiannya adalah mencari alternative untuk keluar dari stagnasi yang dihadapinya sendiri di sekolah agama Mesir, yang tercermin dengan baik dalam pendidikannya di Al- Azhar, program yang diajukan nya sebagi salah satu fondasi utama adalah benar. Dia mengkritik sekolah modern yang didirikan pemerintah. Katanya di sekolah misionaris, siswa dipaksa mempelajari Kristen, sedangkan di sekolah pemerintah, siswa tidak diajarkan agama sama sekali.[4] Rhasyid Ridha salah satu murid Abduh mengatakan, bahwa pendidikan bagi Muhammad Abduh bertujuan “mendidik akal dan jiwa serta mengembangkanya hingga batas-batas akhir serta mengembangkanya hingga batas-batas yang memungkinkan anak didik mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.[5]

Dari tujuan pendidikan di atas, Muahammad Abduh tampaknya berkeinginan agar proses pendidikan dapat membentuk kepribadian muslim yang seimbang. Pendidikan baginya bukan hanya bertujuan mengembangkan aspek kognitif (akal) semata, tapi juga perlu menyelaraskan afektif (moral) dan psikomotorik.[6] Dalam merumuskan tujuan pendidikan, Muhammad Abduh selalu menghubungkan antara tujuan yang satu dengan yang lainnya, baik tujuan akhir pendidikan maupun tujuan institusional[7]. Pokok pikirannya tentang tujuan institusional pendidikan didasarkannya kepada tujuan pendirian sekolah. Ia membagi jenjang pendidikan kepada tiga tingkatan, yaitu Tingkat Dasar (mubtadiin) Tingkat Menengah (tabaqat al-wusta). Tingkat Tinggi (tabaqat al-‘Ulya).[8]Pembagian ini disesuaikan dengan tiga kelompok masyarakat di lapangan pekerjaan yang akan mereka geluti nantinya, yaitu kelompok para tukang, pedagang, petani dan yang serupa dengan mereka. Kedua adalah para pejabat yang mengatur urusan negara, mengelola kemaslahatan masyarakat serta memeliharanya, seperti panglima angkatan bersenjata pengadilan beserta pegawainya dalam berbagai golongan. Ketiga adalah golongan para ulama, pemimpin masyarakat dan ahli pendidikan seperti guru dan lainnya.

Abdul Mun’in Hamadah mengemukakan bahwa salah satu agenda pembaharuan pendidikan yang dilakukan oleh Muhammad Abduh adalah perlunya perluasan dalam kajian pengetahuan. Gagasan ini kemudian diwujudkan dalam berbagai macam rekomendasi tentang perlunya memasukkan mata kuliah filsafat, ilmu alam, ilmu pasti maupun kesusastraan. Keinginan Muhammad Abduh untuk mendekatkan kembali dari berbagai macam pandangan yang dikhotomis, seperti dikhotomi agama dan ilmu pengetahuan, pendidikan agama dan pendidikan umum, dengan mengemukakan fakta sejarah tentang bagaimana umat Islam pertama kali mengembangkan pemikiran Yunani menjadi filsafat Islam lewat proses hellenisasi.

Kemudian umat Islam mampu meletakkan dasar-dasar pengembangan ilmu pengetahuan. Sikap penolakan terhadap dimasukkannya ilmu-ilmu umum tersebut pada dasarnya merupakan salah satu akibat dari kondisi statis yang masih melanda umat Islam sehingga terjadi penyempitan pola pikir umat Islam. Dan dampak lebih lanjut dari stagnasi pemikirakan merambah pada aspek-aspek kehidupan yang lain. Secara rinci Muhammad Abduh menyebut bahwa sikap statis berdampak pada akidah, syariah, pendidikan dan juga membahayakan persatuan umat.[9]

Dari segenap pemaparan diatas, jelaslah bahwa tujuan dan arah pendidikan Islam secara umum adalah untuk keslamatan dunia dan akhirat. tidak pernah pendidikan Islam membenarkan bahwa pendidikan hanya berorientasi pada untuk mendapatkan gelar, ijazah, pekerjaan, gaji dan lain-lain. Pelaku pendidikan seperti inilah yang saya katakan sebagai peseta didik yang pragmatis yang hidup di Era pragmatsme, yang membulatkan niat mereka untuk menuntut ilmu hanya untuk mencari kehidupan dunia, tanpa memikirkan kehidupan setelahnya, padahal konsep ini tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Dalam Islam segala pekerjaan dan amal ibadahkan yang kita lakukan haruslah bertujuan untuk ibdah agar selamat di dunia dan akhirat. Wallohu a‘alam.!
________________________________________
[1] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam; Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, hal. 33
[2] Munzir Hitami, Menggagas Kembali Pendidikan Islam, Yogyakarta: Infinite Press, 2004 hal. 32
[3] Ahmad Qodri Azizy, Islam dan Permaslahan Sosial; Mencari Jalan Keluar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003, hal. 22
[4] http://ajosoccer.blog.friendster.com/2008/04/. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 12 Mei 2009 04:02:18 GMT.
[5] Suharto, filsafat. Hlm. 275-276.
[6] Ibid. 276
[7] Institusional adalah tujuan yang ingin dicapai suatu sekolah atau madrasah secara keseluruhan, artinya apabila seseorang telah menamatkan pelajarannya atau telah lulus dari ujian akhir sekolah tersebut, ia dapat dianggap telah mencapai tujuan-tujuan yang dibebankan kepadanya,
[9] http://ajosoccer.blog.friendster.com/2008/04/. Gambar ini adalah jepretan laman seperti yang ditampilkan pada tanggal 12 Mei 2009 04:02:18 GMT.

Tidak ada komentar: