Jumat, 13 Mei 2011

Cinta Itu*.. .

Hidayatul Mabrur
(Sebuah Catatan dari Ruang Kuliah)

Ketika saya mengikuti sebuah perkuliahan dengan mata kuliah yang berkaitan tentang intraksi sosial, yang memang ketika itu sedang berdiskusi tentang daya tarik interpersonal manusia, atau lebih spesifiknya lagi sebut aja cinta. Singkat cerita, setelah pemakalah memeparkan panjang tenteng isi makalahnya, tibalah sesi tanya jawab, nah, ketika itu ada sebuah pertanyaan konyol yang menyeletup dari salah seorang mahasiswa, ia bertanya kepada pemakalah yang beranggotakan 3 orang itu, yang intinya seperti ini, “cinta itu harus diungkapkan pa ga’ sieh?”. Beberapa saat setelah pemakalah pertama mananggapinya, kemudian pemakalah kedua menanggapi juga dengan suara lantang n Pd, dia menjawab kalo’ cinta itu harus bin kudu diungkapkan, dengan argument kalo ga’, hal itu akan berdampak negatif pada psikis seseorang yang sedang kejatohan cinta atau bahasa trandnya yang sedang faling in love (sebutlah demikian).



Mendengar jawaban teresebut susana kelaspun riuh, semua mengacungkan tangan seakan ingin berkomentar memberikan tangggapan terhadap jawaban yang tabu itu tadi, moderatorpun bingung mana yang harus didahulukan,! (memang ya, kalo bicara tentang cinta ga ada ujungnye “never ending Asia” he Jogja qale’! ) Akhirnya sang moderator memilih salah satu cowok beken (di kelas itu) dari salah satu peserta kuliah yang hadir saat itu, ia membantah tentang pernyataan sang pemakalah tadi, ia bersihkeras mengatakan kalo cinta ituGa’ harus diungkapkan baik secara perbuatan ataupun kata-kata (titik)!! Wah…suasana kelaspun semakin heboh neh…!

Perdebatanpun berlangsung panas ditambah suasana siang hari saat itu yang sepertinya memang mendukung untuk bersikap egois dengan pendapat masing-masing. Ada yang memambah kalo mau ngungkapin cinta kita tu harus tau dulu, kepada tipe cewe or cowo yang bagaimana harus kita ungkapakan itu, apakah yang menjadi objek sasaran itu lebih bersifat ekstropet or intropet (terbuka pa tertututp), pemalu apa engga’ tow gimana gitu deh? 

kemudian ada juga yang berkata kalo cinta itu memang harus diungkapkan, kalo engga’ akan berdapak negatif pada mental n perasaan seorang yang sedang kejatohan cinta, dan macem-macemlah argemennya! Kuliah yang hanya berdurasi 2 sks tu pun semakin berlangsung tegang dengan pernyataan-pertnyataan tadi, semua peserta diskusi bersihkeras dengan pendapaatya masing-masing. akan tetapi masalah belum terjawab secara tuntas. Sebelum ending diskusi, ada seorang mahasiswa yang menengahkan masalah ini, ia berkata “mengapa harus diperselisihkan? Toh, kalo memang sang pemakalah berpendapat bahwa cinta itu harus diungkapkan n kemudian salah satu perseta diskusi berpendapat kalo cinta itu tak harus diungkapain,, ya sudah..! mengapa harus diperselisihkan. Toh, terlepas diungkapkan apa tidak, tu kan hak privasi dan terserah dari masing-masing pendapat orang toh! (gitu aja kok repot,..kata tukul..).He.. benar juuga yah!

Nah saya boleh menambahin dikitkan, klo saya sieh, lebih sependapat dengan pendapat yang terakhir tadi, mengapa hal itu harus diperdebatkan! bukankah itu semua hak privasi dari masing-masing yang sedang kejatohan cinta kan, Toh mau diungkapkan atau tidak cinta ya tetap cinta, seorang yang sedang jatuh cinta ya tetap aja mengalami gejala hukum alam baqa’ itu ketika ingin ketemu sang pujaan hati, seperti deg-degkanlah, grogi, narsies, ga’ Pd , n sering mengingat-ingat so doi, kata orang arab “man ahabba sayan katsuro dzikruhu” tow yang lebih akrab kita dengar seperti lagu group bend Dewa tu loh, (disetiap ada kamu….dst) ia kan? Kemuadian kalau kita berbicara tentang hukum, lalu apakah ada hukum yang memfardhukan kifayahkan bawha apabila seseorang yang sedang kejatohan cinta itu, kudu mengunggkapkan perasaanya kepada sang pujaan hati? Enggakkan,..!

Lain halnya jika kita berbicara terhadap dampak dari itu semua, baik itu dari pandangan Psikologi ataupun Agama, tentunya hal ini akan berbeda jawabannya, kalo qite lihat dari kacamata Psikologi mungkin saja benar seseorang akan cenderung mudah tuk mengalami depresi diri, karena pada hakikatnya dalam ilmu psikologi yang pernah qite pelajari, apabila suatu hastrat seseorang tidak tersalurkan dengan baik n sehat, maka akan sangat berpeluang sekali seseorang itu mengalami tekanan diri, tapi sekali lagi hal itu juga tergantung pada masing-masing karakter seseorang coz sifat manusiakan cenderung bervariatif tuh, Juga mungkin dipengaruhi gender deh, mungkin kalo cewe’ akan lebih cenderung untuk menutup-nutupi perasaannya maka sebaliknya kalo cowo’ (nie mungkin low). Nah bagaimana halnya jika menurut prespektif Agama (tentunya Islam dong!)? Berbicara tentang cinta, Islamlah Agama yang sangat sering menyinggung tentang cinta, karena memang Islam Agama yang mengajarkan kepada kita bagaimana untuk berkasihsayang antar sesame (ruhamaa’).

Nah sebelum berbicara apakah harus diungkapkan atau tidak..(kalo kita berbicara dalam frame Islam) kayaknya kita terlebih dahulu harus membahas udah sah atau belum deh hubungannya? Coz sah pa tidaknya ikatan sebuah hubunganlah adalah hal yang paling harus diperhatikan dalam Islam. jika belum, (eitss..nanti dulu!) jika sudah sah n SIMnya dah keluar dari KUA (maksud saya sudah melalui proses I+Q or Ijab Qabul yang sah, ah, antum paham sendirikan. kayak kang Fahri di “ACC” tu loh), maka samasekali hal itu tak ada salahnya, malah menjadi sebuah amalan yang bernilai ibadah deh untuk dilakukan, baik itu diekspresikan lewat perkataan (as like, “I love u Bibeh…” melalui smslah, E-mail dll) or perbuatan (as like,,,,ups! Blom saatnya u know! He..), tuhkan pahala bo’….! mau ga? Makanya cepetan selesain kuliahnya tu.., baru qite ke KUA…! Okey guys. (So that is best solution).

1 komentar:

Are_Prie@moslemGirl mengatakan...

Tergantung masing-masing individu bagaimana mengekspresikan perasaannya....
sesuai syariatkahkah..??atau hanya sekedar mengikuti rasa....??
mka kalau menurut saya serahkan, mintalah cinta pada Sang Pemilik Cinta..........
ALLAH SWT..