Jumat, 13 Mei 2011

Islam Bertutur Tentang Profesional

Hidayatul Mabrur
Sebagai Muslim, tentunya kita sepakat untuk menyatakan bahwa Islam adalah agama yang syamil dan kamil, Syamil artinya menyeluruh sedangkan kamil berarti sempurna. Ini mengidentifikasikan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan seluruh sendi-sendi kehidupan manusia, mulai dari perkara duniawi hingga persiapan kita untuk mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan duniawi diakhirat nanti. Dalam kehidupan didunia, kita (muslim) dituntut untuk mengemban amanah sebagaia khalifah, Hal itu tak lain bertujuan untuk menjaga kelestarian agar roda kehidupan dimuka ini dapat berjalan dengan baik dan seimbang (balance), sebagaiamana yang sering kita simak dalam surat al-Baqarah ayat 30.



Lebih lanjut, sebagai kahalifah dimuka bumi, masing-masing kita juga dituntut untuk dapat mengimplementasikan empat konsep pokok yang sejak jauh-jauh hari telah diajarkan oleh kanjeng Nabi Muhammad SAW, dimana empat sikap itu adalah Siddiq (Jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (Menyampaikan) Fathonah (Cerdas). Konsep yang demikian ini lebih relevan untuk kita sebut sebagai nilai-nilai Porfesional.

Profesionalisme berasal dan kata profesional yang mempunyai makna yaitu berhubungan dengan profesi dan memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, (KBBI, 1994). Sedangkan profesionalisme adalah tingkah laku, keahlian atau kualitas dan seseorang yang professional (Longman, 1987). Dalam dunia kerja, orang yang bekerja pada profesi tertentu disebut profesional. Oleh karena itu, seorang profesional menunjukkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap lebih dibanding pekerja lainnya. Seorang dikatakan profesional jika ia mahir dalam bidang pekerjaannya. Bahkan dalam Islam, orang yang melakukan suatu pekerjaan sangatlah dituntut untuk berlaku sesuai pada profesinya masing-masing (professional) dan peringatan keras bagi mereka yang tidak mengindahkan himbauan ini. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhori :
إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
Rasulullah SAW bersabda : “Jika sebuah urusan diberikan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya” (HR Bukhori).

Nilai-Nilai Profesionalitas dalam Islam
Profesional ini sangat penting, karena menduduki posisi penting Kecintaan Allah SWT pada mereka yang bekerja dengan profesional :
إنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah SWT mencintai jika seorang dari kalian bekerja, maka ia itqon (profesional) dalam pekerjaannya” (HR Baihaqi)
Dalam konteks hadis diatas, semakin menjelaskan kepada kita, bahwa Islam adalah agama yang meletakan dan menekankan nilai-nilai profesional dalam setiap pekerjaan yang dilakukan oleh ummatnya, lantaran profesional juga merupakan ciri implmentasi dari tingkatan seseorang yang mencapai maqom (tingkatan) Ihsan, yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada iman dan Islam.

Ciri Muslim Profesional
Ada empat nilai inti yang perlu diwujudkan untuk menjadi seorang Muslim professional., sebagaimana yang telah penulis paparkan sepintas diatas. Pertama, kejujuran (ash-shidq). Bersungguh-sungguh bekerja merupakan cirri khas profesional. Namun apa artinya kesungguhan itu jika tidak dibarengi dengan sikap jujur. Kejujuran adalah modal sangat berharga bagi setiap manusia dalam menjalankan seluruh aktivitas kehidupannya. Profesi apapun yang ditekuninya, seyogianya sifat jujur senantiasa menghiasi dirinya. Al-Qur’an memuji orang-orang yang selalu berperilaku jujur. “Ini adalah hari yang bermanfaat bagi orang-orang yang jujur (disebabkan) kejujuran mereka. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah karena Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Dan itulah keberuntungan yang paling besar,” (QS al-Maaidah: 119).

Kedua amanah (al-amnah) atau dapat dipercaya. Salah satu komitmen penting yang harus kita bangun dalam karir hidup kita, adalah membangun kepercayaan orang lain. Nabi Muhammad SAW berhasil menuai sukses, dalam sisi apapun, setelah beliau berhasil membangun kepercayaan orang lain terhadap dirinya. Memang, komitmen dan kesuksesan hanya akan datang jika kita memiliki kredibilitas dan dipercaya. Pepatah Arab mengatakan, “Sifat santun adalah terpuji, menjaga kepercayaan adalah harta pusaka.” Dalam pandangan Islam, profesionalisme tak dapat dipisahkan dari amanah. Sebab, sifat inilah yang akan selalu membingkai profesionalitas pekerjaan kita agar tetap berada di jalurnya yang benar. Orang yang tidak amanah berarti tidak profesional dalam menjalankan tugasnya. Rasulullah SAW menjelaskan, “Apabila amanah telah disia-siakan, tunggulah saat kehancuranny,” (HR Bukhari).

Ketiga, keterbukaan dan transparansi (tabligh). Secara harfiah, tabligh bermakna menyampaikan sesuatu apa adanya, tanpa ditutup-tutupi. Keterbukaan penting dimiliki seorang professional, agar mekanisme amanah (akuntabilitas) dan pertanggungjawaban dapat berlangsung dengan baik. Transparansi juga erat berkait dengan kejujuran dan sifat amanah, bahkan ia merupakan refleksi dari kedua sifat tersebut. Orang yang jujur dan amanah tak akan menyembunyikan sesuatu yang selayaknya diungkap. Ia mampu mengungkap kebenaran sekalipun pahit, baik bagi dirinya maupun untuk karirnya.

Keempat, cerdas dan bijaksana (fathanah). Tak dapat dipungkiri, kehidupan dunia yang lebih mengedepankan aspek formalitas daripada moralitas, seperti saat ini, intelektualitas dijadikan parameter pertama untuk mengukur kemampuan seseorang. Padahal, kecakapan intelektual buka satu-satunya tolak ukur menilai profesionalitas seseorang. Apa gunanya orang cerdas jika tak bermoral dan tidak memiliki karakter yang baik. Kecerdasannya akan disalahgunakan hanya untuk mengeruk keuntungan pribadi dan merugikan orang lain. Fathanah (fathonah), yang bukan hanya sekedar bermakna cerdas tetapi juga visioner dan inovatif, tanggap menangkap peluang untuk maju serta menciptakan sesuatu yang tepat guna, efisien dan berdaya saing tinggi.
Jelasnya, untuk menjadi professional, seorang Muslim hendaknya mempunyai empat karakter sebagaimana disebutkan diatas. Keempat sifat itu juga merupakan sifat utama pribadi Rasulullah SAW, yang juga merupakan kunci penting untuk memenangkan persaingan, khususnya di era perdagangan global. Selain dari terpenuhinya keempat nilai inti tersebut, seorang professional Muslim hendaknya juga mempertahankan tujuan inti. Tujuan inti-nya hanyalah mengabdikan diri pada Allah SWT. “Dan tidak Aku ciptakan golongan jin dan manusia selain untuk mengabdi kepada-Ku,” (QS adz-Dzariyat: 56)

Epilog
Semoga tulisan ini dapat menyadarkan kita, bahwa sebenarnya agama yang kita bernafas didalamnya ini (Islam) mengajarkan kita untuk selalu bersikap secara profesional (ihsan) dalam menjalankan (melakoni) apapun yang menjadi profesi kita. kita harus mampu mengimplementasikan empat konsep (sidiq, amanah, tabligh, fathonah) yang telah dicanangkan jauh-jauh hari oleh Nabi kita Muhammad SAW. Menjadi guru jadilah guru yang profesional, menjadi dokter jadilah dokter yang profesional, menjadi pedagang jadilah pedangang yang profesional dan seterusnya. singkat kata, apapun kita, siapun kita dan dimanapun kita, teruslah untuk mengimplmentasikan nilai-nilai professional sehingga dengan demikian identitas Muslim yang kita sandang akan semakin disegani dan dipandang terpuji, baik dalam konteks hubungan kita sesama manusia maupun dimata Allah SWT yang Maha Sempurna.

Tidak ada komentar: