Oleh : Hidayatul Mabrur
Ada sebuah sabda (statemen) menarik yang bermuara dari hadis Rasulullah Muhammad SAW, saya anggap statemen ini paling menakjubkan, bahkan bisa jadi bagi orang yang tidak beriman ini dikatakan statemen edan. Haha.. Betapa tidak, mana ada agama yang menjanjikan ganjaran yang hanya cukup dengan “merasa senang” dengan kehadiran suatu bulan, lantas diberi ganjaran (pahala) syurga dan diharamkan atasnya dari jilatan api neraka. Yah, kurang lebih begitulah bunyi hadis yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i yang artinya “Barangsiapa yang bergembira datangnya bulan Ramadhan, diharamkan Allah jasadnya menyentuh api neraka”. Itu baru merasa senang loh, belum melakukan amalan apa-apa didalamnya, edan bukan?
Saya melihat disinilah letak salah satu dari ribuan keistimewaan yang terdapat pada bulan Ramadhan. Bulan yang digambarkan lebih baik dari pada seribu bulan itu-pun akan tiba dihadapan kita (QS; 3). Rasulullah SAW sebagai orang yang sudah diberi garansi masuk syurga saja masih selalu merindukan kehadiran bulan ini. Bahkan, dua bulan sebelum kehadiran ramadhan, yakni ketika akan memasuki bulan rajab beliau sudah bemunajat dan memohon kepada Allah SWT agar dipanjangkan umurnya sehingga dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan “Allohuma baariklanaa fi rajaba wa sya’bana, wabalighaa ramadhana”. Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kami pada bulan rajab dan sya’ban, dan pertemukanlah (sampaikanlah) kami pada bulan ramadhan.
Tidak mau ketinggalan para sahabat, merekapun selau bersemangat dalam menanti hadirnya bulan Ramadhan. Sebagaimana para tabi’in, tabi’ tabi’in dan para salafussalih; mereka juga tidak pernah lupa dan selalu menantikan hadirnya bulan Ramadhan, bahkan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa hidup mereka dalam setahun dibagi pada dua bahagian; periode pasca Ramadhan yang mereka gunakan untuk memohon kepada Allah SWT agar diterima segala amal ibadah mereka dan periode sebelum Ramadhan (6 bulan sebelumnya), agar kembali diperkenankan Allah SWT untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan pada masa yang akan datang. Maka hal ini semakin memperkuat hadis Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa, “Andai saja orang-orang tahu berkah bulan Ramadhan, maka niscahaya ia akan meminta sepanjang tahun adalah Ramadhan.
Tidak mau ketinggalan para sahabat, merekapun selau bersemangat dalam menanti hadirnya bulan Ramadhan. Sebagaimana para tabi’in, tabi’ tabi’in dan para salafussalih; mereka juga tidak pernah lupa dan selalu menantikan hadirnya bulan Ramadhan, bahkan dalam suatu riwayat disebutkan bahwa hidup mereka dalam setahun dibagi pada dua bahagian; periode pasca Ramadhan yang mereka gunakan untuk memohon kepada Allah SWT agar diterima segala amal ibadah mereka dan periode sebelum Ramadhan (6 bulan sebelumnya), agar kembali diperkenankan Allah SWT untuk berjumpa dengan bulan Ramadhan pada masa yang akan datang. Maka hal ini semakin memperkuat hadis Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa, “Andai saja orang-orang tahu berkah bulan Ramadhan, maka niscahaya ia akan meminta sepanjang tahun adalah Ramadhan.
Lalu pertanyaannya, bagaimana dengan kita? Sudahkah kita merasa gembira dengan hadirnya ramadhan? Sejauhmana kita melakukan warming up (persiapan) imani dan jasmani dalam menghadapi momentum spesial ini? Atau malah (mohon maaf saya bersu’udzon) masih ada dibenak kita akan perasaan khawatir, takut dan resah lantaran aktivitas sehar-hari akan mandeg hanya karena tidak diperkenankan makan pada siang hari dibulan ramadhan?. Semoga tidak demikian kita beralasan. Maka dalam tulisan ini, penulis mengajak kita bersam-sama melakukan persiapan terbaik agal kita mampu tampil prima dipanggung ramadhan 1432 H ini. Nah, dari beberapa referensi yang saya temukan, banyak sekali prihal yang bisa kita lakukan dalam rangka menyambut bulan penuh maghfiroh (ampunana) ini. Namun paling tidak ada empat hal yang bisa kita persiapkan menyambut kehadiran bulan ramadhan, berikut penulis uraikan ;
Pertama, I'dad Imani, ialah persiapan keimanan.
Keimanan menjadi tendensi mendasar yang menjadi pembeda antara seorang manusia dengan yang lainnya. Iman diibaratkan sebagai mutiara yang begitu berharga dalam diri manusia, ia juga merupakan garansi bagi seseorang untuk meraih kesuksesan dan keselamatan didunia maupun di akhirat kelak. Dalam rangka mempersiapan ruh keimanan itu, momentum Ramadhan ini adalah kesempatan yang paling tepat untuk mendongkrak kualitas iman, karena orientasi dari diwajibkannya berpuasa adalah untuk meningkatnya iman dan takwa.
Kita maklum bahwa iman sangat erat kaitannya dengan hati, dalam surat Al-baqarah ayat 10 dikatakan bahwa diantara ciri orang yang tidak beriman adalah mereka yang memiliki hati yang sakit dan Allah SWT pun menambahkan penyakit itu kepadanya. Olehkarenaya, bagaimana kita berupaya untuk sungguh-sungguh mengolah hati agar keimanan kita terus membaik. Dalam istilah jawa yang kita kenal dengan 5 konsep tombok ati (obat hati), dikatakan bahwa setidaknya ada beberapa hal dapat kita lakukan guna memperbaiki kualitas hati (iman) ; Pertama, membaca Qur’an dan maknanya (moco qur’an lan maknane), kedua, solat malam dirikanlah (solat mbengi lakonono), ketiga; berkumpulah dengan orang soleh (wong kang soleh kumpulono), keempat; perbanyaklah berpuasa (kudu weteng ingkang lui), kelima: dzikir malam perpanjanglah (zikir mbengi ingkakng sui). Maka dari itu, untuk meraih kondisi keimanan yang stabil, bagaimana lima penangkal penyakit hati diatas dapat kita realisasikan dalam kehidupan, karena kelima hal diatas secara otomatis juga akan meningkatkan frekuensi keimanan yang tentunya kondisi inilah yang kita harap-harapkan.
Kedua, I'dad Jasadi, yakni persiapan fisik.
Walaupun secara kasat mata, kita melihat sebagian orang yang sedang menjalankan ibadah puasa meresa lemas. Menurut kajian medis hal itu wajar, dikarenakan adanya perubahan pola makan. Pada umumnya, seseorang melakukan makan pada pagi, siang dan sore (malam) hari. Kini berubah menjadi subuh (sahur) dan sore hari yakni ketikan berbuka, maka lemas itu dikatakan wajar karena belum adanya proses pembiasaan. Agar terbiasa perlu kiranya kita melakukan warming up dari segi fisik khusunya. Seperti membiasakan diri melakuan puasa-puasa sunnah, menegakkan solat malam, membiasakan berolahraga serta termasuk juga memperhatikan asupan gizi. Hal itu bisa kita lakukan beberapa bulan (pekan) sebelum tibanya Ramadhan
Lebih lanjut, jika kita memperhatikan manfaat puasa terhadap fisik kita, tentunya sangat tidak disangka-sangka. Penelitian kaum medis menyatakan bahwa pada hakikatnya puasa sehat dan memberikan implikasi positif terhadap tubuh manusia. Ditaranya, ternyata puasa dapat membersihkan tubuh dari racun dan kotoran (detoksifikasi). Itu artinya dengan puasa, berarti membatasi kalori yang masuk dalam tubuh kita sehingga menghasilkan enzim antioksi dan yang dapat membersihkan zat-zat yang bersifat racun dan karsinogen dan mengeluarkannya dari dalam tubuh. kemudian juga puasa dikatakan dapat menambah jumlah sel darah putih, sel darah putih inilah yang berfungsi untuk menangkal serangan penyakit sehingga dengan penambahan sel darah putih secara otomatis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. selanjutnya juga mereka (kaum medis) mengatakan bahwa puasa dapat menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh, memperbaiki fungsi hormon, meremajakan sel-sel tubuh, Meningkatkan fungsi organ tubuh dan masih banyak lagi hal-hal positif lainnya. Disinilah letak salah satu keajaiban puasa, karena jika kita kaji secara logika, tidak mungkin Dzat yang memerintahkan manusia untuk berpuasa, malah akan memberikan dampak negatif bagi mereka yang ta’at terhadap perintahNya. Maka benarlah apa yang dikatakan Rasulullah “Berpuasalah, maka kamu akan sehat”.
Ketiga, adalah I'dad Maliyah, yakni persiapan harta.
Eits, kita jangan salah faham dulu, persiapan harta yang dilakukan disini bukan diorientasikan untuk berbosros-boros ria guna memenuhi keperluan buka puasa atau hidangan lebaran sebagaimana tradisi kita selama ini. Namun memersiapkan harta disini adalah untuk melakukan persiapan infak, sadaqoh hingga zakat terbaik kita. Karena sebagaimana yang kita ketahui Ramadhan merupakan kesempatan emas untuk memperbanyak sedekah. Pahala bersedekah pada bulan ini berlipat ganda dibandingkan bulan-bulan biasa. Alah SWT memberikan obral besar-besaran bagi mereka yang ringan tangan untuk melakukan sadaqoh pada bulan ini. Walaupun pahala bukan satu-satunya tujuan kita dari bersedekah.
Keempat, I'dad Fikri wa Ilmi, yakni persiapan intelektual dan keilmuan.
Agar ibadah Ramadhan bisa optimal, diperlukan bekal pengetahuan dan keilmuan secara komperhensif tentang ke-ramadhanan. Karena sebagai Muslim sudah selayaknya dalam melakukan setiap amlan dan tindakan harus mempunyai landasan. Begipula halnya dalam berpuasa. Bagaimana berpuasa, berbuka, sahur, tarawih hingga perbedaan-perbedaan (ikhtilafat) yang terdapat di seputar ramadhan seudah selayaknya kita ketahui.! Caranya dengan membaca berbagai bahan rujukan dan menghadiri majelis ilmu tentang Ramadhan. Agar apa yang kita kerjakan selama bulan ramadhan sesuai dengan tuntunan dari Rasulullah SAW.
Epilog
Sebagai penutup, tidak ada kata lain yang dapat kita harapkan selain kita bisa sampai pada Ramdhan pada tahun ini dan mampu melaksanakan peribadatan optimal didalamnya. Olehkarenannya semua itu juga berkaitan erat tentang bagaimana kita mempersiapankan kehadirannya. Semoga pada Ramadhan kali ini, kita mampu menggapai derajat taqwa dan meraih rido Allah SWT. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar