Hidayatul Mabrur
Suatu hari, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Alaa inna fil jasadi mudghah,idzaa shaluhat shaluha jasadu kulluhu waidzaa fasadat fasada jasadu kulluhu, alaa wahiyal qalbu". Ingatlah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dana apabila ia buruk maka buruklah seluruh tubuhnya. Tahukah kamu bahwa ia adalah hati. (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis sederhanan ini seakan memberikan gambaran kepada kita betapa pentingnya fungsi hati dalam implikasinya terhadap tingkah-laku manusia. Hati ibarat panglima, yang mengatur tentara tentaranya. Ia memerintah anggota tubuh lainnya untuk berbuat atau tak berbuat sesuatu. Mata, telinga, lisan, tangan, kai dan seluruh anggota tubuh lainnya akan baik jika panglima yang bernama hati sudah terkondisikan dengan baik.
Ibnul Qoyyim al-Jauziyah pernah menggolongkan tipologi hati manusia kedalam 3 bahagian:
1. Qolbun Mayyit, hati yang mati
Hati yang mati, yang tidak ada kehidupan di dalamnya. Ia tidak mengetahui Tuhannya, tidak menyembah-Nya sesuai dengan perintah sang penguasa jagad raya ini. Ia bahkan selalu menuruti keinginan nafsu dan kelezatan dirinya, Ia menghamba kepada selain Allah; dalam cinta, takut, harap, ridha, benci, pengagungan dan kehinaan.
Jika ia mencintai maka ia mencintai karena hawa nafsunya. Jika ia membenci maka ia membenci karena hawa nafsunya. Jika ia memberi maka ia memberi karena hawa nafsunya. Jika ia menolak maka ia menolak karena hawa nafsunya. Ia lebih mengutamakan dan mencintai hawa nafsunya daripada keridhaan Tuhannya. Hawa nafsu membuatnya tuli dan buta selain dari kebatilan. Inilah hati orang yang dimiliki oleh orang-orang kafir/tertutup.
2. Qolbun Maridh, hati yang sakit
Hati yang hidup tetapi cacat. Ia memiliki dua materi yang saling tarik-menarik. Ketika ia memenangkan pertarungan itu maka di dalamnya terdapat kecintaan kepada Allah, keimanan, keikhlasan dan tawakal kepada-Nya, itulah materi kehidupan. Di dalamnya juga terdapat kecintaan kepada nafsu, keinginan dan usaha keras untuk mendapatkannya, dengki, takabur, bangga diri, kecintaan berkuasa dan membuat kerusakan di bumi, itulah materi yang menghancurkan dan membinasakannya.
Ia diuji oleh dua penyeru: Yang satu menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya serta hari akhirat, sedang yang lain menyeru kepada kenikmatan sesaat. Dan ia akan memenuhi salah satu di antara yang paling dekat pintu dan letaknya dengan dirinya. Hati yang seperti ini dimiliki oleh mereka yang fasiq.
3. Qolbun Salim, hati yang bersih
Hati yang sehat yaitu hati yang bersih, yang seorang pun tak akan bisa selamat pada Hari Kiamat kecuali jika dia datang kepada Allah dengannya, sebagaimana firman Allah, "(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tiada lagi berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (Asy-Syu'ara': 88-89).
Disebut qalbun salim (hati yang bersih, sehat) karena sifat bersih dan sehat telah menyatu dengan hatinya, sebagaimana kata Al-Alim, Al-Qadir (Yang Maha Mengetahui, Mahakuasa). Di samping, ia juga merupakan lawan dari sakit dan aib. Qalbun salim adalah hati yang selamat dari menjadikan sekutu untuk Allah dengan alasan apa pun. la hanya mengikhlaskan penghambaan dan ibadah kepada Allah semata, baik dalam kehendak, cinta, tawakal, inabah (kembali), merendahkan diri, khasyyah (takut), raja' (pengharapan), dan ia mengikhlaskan amalnya untuk Allah semata. Jika ia mencintai maka ia mencintai karena Allah. Jika ia membenci maka ia membenci karena Allah. Jika ia memberi maka ia memberi karena Allah. Jika ia menolak maka ia menolak karena Allah. Dan ini tidak cukup kecuali ia harus selamat dari ketundukan serta berhukum kepada selain Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Hati in seperti inilah yang dimiliki oleh orang-orang beriman.
Semoga Allah SWT selalu menggolongkan kita kepada orang-orang yang selalu menjaga dan merawat hatinya yaitu pemilik qolbun salim, yang insaya Allah dengan demikian kita akan selamat hidup diduni adan diakherat kelak. Amin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar