Kamis, 19 Mei 2011

Dapat Apa dari Universitas?

Hidayatul Mabrur
Awal
Secara jujur, judul tulisan ini saya temukan dari judul sebuah buku yang saya juga entah (tidak menegerti) siapa pemiliknya, yang jelas buku ini sebenarnya sudah lama berada di rak buku kamar saya. Namun baru merasa tertarik untuk membacanya ketika sudah memasuki smester 8 saat menginjak bangku-bangku akhir pada perkuliahan. Entah karena saya baru merasa butuh atau mungkin frasa judul itulah yang membuat saya terusik akhir-akhir ini dan berpikir kembali untuk menjawab pertanyaan gila itu. Beberapa pekan saya sempat mendiskusi prihal ini kepada teman-teman yang seangkatan bengan saya, pertanyaan diatas saya lontarkan kepada mereka, anehnya mereka mengalami hal kebingungan yang serupa, bahkan lebih bingung dari saya. yang kemudian sampailah saya pada sebuah kesimpulan, ternyata saya benar-benar yakin bahwa universitas belum mampu memberikan kontribusi banyak terhadap keilmuan saya.



Tengah
Ada prihal penting juga yang ingin saya samapaikan pada judul diatas, saya mengingatkan, bahwa pada suatu saat kalian semua juga akan mengalami suatu fase yang sama seperti apa yang saya (dan kawan-kawan agktn. 2007 keatas) rasakan saat ini. Bahwa mau tidak mau suatu saat nanti teman-teman juga harus siap dianggap sebagai sosok senior walau mereka (yang menganggap kalian senior) sebenarnya tidak mengetahui seberapa dalam kapasitas keilmuan teman-teman, dan bahwa suatu saat teman-teman juga harus menerima untuk dipanggil dengan sebutan “kakak”.! Dengan nada yang lantang sambil mereka berlari-lari lalu berteriak didepan khalayak ramai kapan wisuda kak?, skiripsinya sudah sampai Bab berapa? yang walaupun bagi sebagian mereka begitulah caranya untuk menyatakan keakraban mereka terhadap kakak-kakak kelasnya. padahal disisi lain, pertanyaan itu bagi sebagian kakak kelas yang tengah terjengap-jengap mengerjakan benda keramat yang bernama “skripsi” itu, bisa jadi itu pertanyaan yang paling menakutkan sekaligus mebosankan.! Apalagi bagi mereka yang sudah sampai pada fase keputus asaan yang dalam (deep in give up.) lantaran untuk menyentuh skripsipun begitu berat, belum lagi memikirkan dosen pembimbing mereka , yang apabila ingin bertemu dengannya, sama sulitnya seperti ingin ketemu Setan. Haha.. Naudzubillah deh.!

Lantas ujung-ujungnya, saya tentunya bertanya dalam hati, Ada Apa ini? apa yang salah? Apa yang telah universitas berikan selama empat tahun ini, kalo hanya untuk mengajarkan mahasiswanya mengerjakan skripsi saja tidak sanggup.! dan saya kira pertanyaan ini juga perlu kita renungkan kembali bersama-sama. Padahal Anda, mau tidak mau, suka maupun tidak suka harus patuh dan ta’at pada jadual pembayaran yang telah ditetapkan oleh dedengkot-dedengkot universitas. Bahkan saya kadang miris melihat sebagian mahasiswa yang harus memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri, mereka harus bekerja demi mengumpulkan rupiah, meminjam sana-sini, bukan hanya untuk menambal biaya hidup mereka namun yang paling menyiksa untuk membayar tunggakan SPP dan SKS yang kadang sudah diancam oleh pihak universitas untuk di0-D.O jika tidak melunasi tunggakan-tunggakan itu.! Hufh…

Dalam konteks ini, kalau semisalnya masih ada yang mengkampanyekan pepatah yang mengatakan “jangan tanyakan apa yang telah universitas berikan kepada anda, tapi tanyakan apa yang telah anda berikan kepada universitas,? Bagi saya bulshit dengan pepatah itu.! Dalam konteks TQM (Total Quality Manajemnen) dan menurut banyak pengamat pendidikan, universitas dan kebanyakan perguruan tinggi zaman sekarang hanya berorientasi pada bisnis, tak ayalnya seperti sebuh perusahan komersial, jika kita asumsikan pihak Rektorat dan jajarannya adalah pemilik dan pengelola perusahaan, maka mahasiswalah target konsumen tetapnya. yang suka tau tidak suaka harus membayar (tak boleh kurang sedikitpun) atas jasa yang telah digunakan, tanpa memperhatikan perkembangan pada aspek keilmuan (kognitif), moral (afektif) dan skillnya (psikomotorik), padahal setahu saya, tiga aspek itu mutlak harus ada dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Benar kata Romi Satria Wahono (Penulis Buku), Kampus saat ini hanya mengajari orang untuk punya pengetahuan, teknik dan keterampilan tanpa memperhatikan attitude atau sikap artinya mendidik orang pintar tapi sesat di jalan. Sungguh memprihatinkan.!
Komparasi

Mungkin akan menjadi menarik jika tulisan ini kita komparasikan dengan model-model pembelajaran orang-orang yang menggila dan pernah dicatat sejarah. Jika teman-teman membaca biografi mayoritas para revolusioner dunia, mereka tidak pernah merasa enjoy dengan jalur pendidikan formal seperti apa yang kebanyakan kita rasakan saat ini. Mulai dari Albert Ensten (1879-1955) sang penemu bom atom dan pencetus teory relativitas, adalah siswa paling bodoh yang gagal dalam ujian tes sekolah karena gagal dalam pelajaran bahasa dan budaya, dia malah menjelma jadi seorang ilmuwan yang luar biasa dan menjadi salah satu tokoh dunia yang paling dikenal. Sehingga sejarah menyimpulkan Ensten tidak pernah sekolah.

Thomas A. Edison, yang paling terkenal dan produktif sebagai penemu sepanjang masa, dengan lebih dari 1.000 paten dalam nama-Nya, termasuk bola lampu listrik, phonograf, dan film kamera. Ia drop out setelah hanya tiga bulan pendidikan formal. Untungnya, ibunya pernah menjadi guru sekolah di Kanada dan home-schooling Edison muda. Tidak hanya itu Bill Gate, adalah salah satu pendiri raksasa perangkat lunak Microsoft dan telah menempati ranking teratas orang terkaya di dunia untuk beberapa tahun. Gates drop out dari Harvard di tahun pertama setelah membaca artikel tentang komputer mikro[1]. Kemudian, penemu web jejaring sosial paling fenomenal sejagad raya saat ini yang saya yakin anda semua memiliki akunnya yaitu Facebook. Dia dalah mahasiswa fakultas Psikologi universitas Harvard bernama Mark Zuckerberg, yang menurut survey saat ini menjadi orang terkaya nomer dua sedunia. Ia orang yang tidak merasa enjoy terhadap bidang keilmuan yang ditekuninya, sehingga ketika mengkuti perkulaihan ia malah asyik duduk dibelakang kelas mengotak-atik lapotop yang dari situlah lahir cikal bakal jejaring sosial yang bernama fasbuk.

Lalu, Siapa kamu?
Sekarang, mari bersama-sama kita memadukan presepsi bahwa sekolah/universitas bukan satu-satunya kendaraan yang dapat menghantarkan kita pada gerbang keberhasilan, lembaga-lembaga itu hanya memandang kita sebagai robot, yang tiap pagi harus datang pada pagi hari, berseragam rapi, dengan baju dimasukkan kedalam, mencatat apa yang ditulis sang guru, mengerjakan tugas-tugas yang telah dijadulakan oleh guru, jika tidak akan mendapatkan hukumkan. Sayang sekali jika manusia yang mempunyai sumber potensi yang luar biasa seperti kita, hanya diperlakukan layaknya seperti robot .!

Jika kita sepakat bahwa sekolah/universitas bukan satu-satunya kendaraan yang dapat menghantarkan kita pada gerbang kesuksesan. Maka mari ber-sekolah kepada universitas sendiri yang dapat memberikan banyak improvisasi keilmuan yang sesuai dengan apa yang kita cintai, mari kita bangunkan sekolah-sekolah/universtas-universitas sesuai dengan rekayasa dan arsitek keilmuan yang kita inginkan, sesuai dengan skill yang kita miliki dan mengan mengenal spesifikasi dan kemampuan internal yang Tuhan berikan kepada kita, bukankah Nabi pernah berstatemen : man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu,

Epilog
Orang-orang yang dicatat sejarah adalah orang yang selalu berfikir untuk menjadi pribadi yang luar bisa dengan cara-cara diluar kebiasaan, mereka adalah orang-orang yang selalu melihat sesuatu dari sisi yang berbeda dari kebanyakan orang lihat, mereka adalah orang-orang yang tidak membiarkan nasib hidupnya selalu staknan, karena mereka yakin Tuhan tidak pernah meberikan sesuatu yang tidak beruntung baginya. Mereka itulah orang yang sukses denga cara mereka sendiri. Mereka itulah orang yang sukses dengan caa mereka cintai. Jadilah bagian dari mereka. Lalu, sekali lagi. Siapa Anda? Apa Anda? Dan Sejarah akan mencatat anda sebagai apa? Mari kita jawab dengan terbiasa melakukan apa yang tidak biasa orang lain lakukan,! Cobalah,!

 *Judul terinspirasi dari bukunya mas Romi Satria Wahono


1 komentar:

usaha sukses mengatakan...

tulisannya sangan inspiratif, saya setuju mas universitas memang belum bisa membentuk orang menjadi sukses. tapi mahasiswa itu sendiri yang harus menggali potensi dirinya untuk menjadi yang terbaik..